Thursday, 11 August 2016

Alam_Gunung-Hutan--Survival Tips

wisata

Salam Lestari rekan pecinta gunung hutan dimanapun di bumi ini ^_^


Holla everybody ^_^ hehehe, dan buat kalian para junior, jangan cengengesan aja. Simpen dulu kamera ente, sekarang waktu buat sedikit serius.
Pada lembar sebelumnya, sudah dibagi tentang MP, atau Manajemen Perjalanan, yang seharusnya mencakup juga mengenai Manajemen Packing yang ternyata banyak yang tidak dimengerti...
Namun, kita akan sampai Managemen packing setelah ane siapin gambar-gambarnya, biar kalian paham bener-bener kenapa packingan dengan matras dicantolkan pada sisi luar carrier seperti yang Junior semua tiru dari salah satu film karya anak bangsa yang mengambil tempat di Mahameru itu kurang relevan dan cenderung berbahaya

Sementara itu, ane akan mengulas sekilas mengenai Ilmu dasar bertahanan hidup di alam atau tips dan trick survival training.
Survival training merupakan inti dari Pendidikan Dasar dan Pelatihan untuk berbagai Organisasi Pecinta Alam, dimana peserta akan memasuki simulasi dimana mereka harus bertahan hidup dengan sumber daya yang terbatas. Latihan ini dianggap sangat penting, karena pada dasarnya, pembentukan karakter individu dapat diarahkan menuju pribadi yang lebih tangguh ketika mereka harus bertahan dalam kondisi yang serba minim.
Meskipun sebenarnya survival training ini lebih banyak digunakan oleh Tentara dalam latihan rutin mereka, namun tidak ada salahnya jika ane membagi sedikit mengenai dasar dari Ilmu ini, jadi jika misalnya Junior memutuskan untuk nekat menggendong carrier yang berisi kamera dan tongsis serta sarung itu di punggungmu, sedikit pengertian sudah sedikit kau dapat dari halaman ini, dan semoga kau ingat...
Pada dasarnya, survival training dibagi menjadi 4 bagian utama, yakni;
  • Shelter

  • Water Survival

  • Fire Survival

  • Dan Food Survival

    Jadi pada halaman ini, kita akan membahas mengenai hal pertama yang harus ditemukan dalam kondisi darurat, Shelter...

    Shelter atau tempat bernaung, adalah hal pertama yang harus tersedia dalam kondisi darurat. Ketersediaan shelter memungkinkan kita untuk menginventori kondisi, baik ketersediaan supply, kondisi tubuh, dan lain sebagainya. 
    Karena itu, shelter harus memiliki beberapa persyaratan tertentu seperti mampu menahan angin, bisa melindungi penggunanya dari hujan dan/atau embun, dan jika memungkinkan, melindungi penggunanya dari binatang buas. Dalam hal ini, tenda dome adalah pilihan utama, hehehe, atau mungkin rumah pantai bahkan akan lebih bagus lagi, qqqqq Namun ya get real aja, kalau masih punya dome di carrier ya mungkin kondisi kita nggak terlalu darurat, hehehe...

    Oke, jadi mari kita andaikan kita berada dalam kondisi emergensi dimana dalam perjalanan menuju selfie di puncak gunung, kau terpeleset dan jatuh terguling-guling ke jurang macam film-film itu dan entah karena apa, tali carrier-mu putus dan tercecer entah dimana dalam perjalanan guling-guling menuju penderitaanmu ini, so there is no way you can find it in a short time.
    Ditambah lagi, mengingat kau berada di jalan setapak gunung yang biasanya punya banyak sekali pohon, kau terantuk pohon dalam perjalanan penuh sengsara itu dan kau pingsan...

    Saat kau sadar, situasi sudah gelap dan sentermu berada di carrier yang entah dimana beserta seluruh peralatan yang kau punya, so what do you do???

    Perjalanan tertatih dalam gelap dengan kondisi badan sakit semua sangatlah tidak disarankan, karena malam di gunung sama sekali tidak bisa disamakan dengan malam di kos-mu, sendeso apapun kosmu itu...
    Sementara, jika malam kebetulan cerah dan tidak hujan, embun akan tetap menjadi preman yang menginvasi panas tubuhmu dengan semena-mena jika kau tak punya tempat berlindung. Dan disinilah kemampuan mental yang kuat sangat dibutuhkan dalam prosesnya..

    Shelter sangat mudah ditemukan saat kita tenang dan tidak panik, dan jika kita tidak bisa menemukannya, itupun tidak masalah. Emeregency Shelter dapat dibuat dari Ponco atau Raincoat batman jika kita punya, atau akrab dengan sebutan bivac. 
    Namun jika itu tidak ada, kita bisa membuat shelter alam dengan mencari cabang tanaman yang masih memiliki daun, dan susun sehingga mampu menciptakan ruang yang bisa melindungi pembuatnya dari angin dan embun, sehingga meski badan sakit semua, kemungkinan hipothermia bisa sedikit dikurangi...

    Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan shelter adalah arah angin, dan apakah tempat yang kita pilih berada pada jalur air atau tidak, sehingga setelah shelter jadi, kau tak perlu bingung lagi saat jika misalnya kesialanmu belum berakhir dan hujan turun, hehehe...

     Nha, disamping bisa kau lihat contoh-contoh pembuatan shelter alam dengan menggunakan berbagai hal yang ada di hutan, yakni kayu dan daun, qqqq

    Yang bisa kau pelajari adalah bagaimana shelter itu bisa berdiri tanpa menggunakan tali, karena sangat kecil kemungkinan kau mengantongi tali selama perjalanan menuju impian selfie di puncak itu, jadi tak panik lagi kau ketika mau bikin shelter dan ternyata kau tak temukan tali dimanapun

    Shelter seperti contoh di samping pasti tidak akan senyaman dome atau prisma yang kau punya, bahkan mungkin ada binatang yang mungkin ikutan nimbrung berteduh waktu rumah mereka kau rusak demi supaya tak kedinginan jidatmu, tapi lumayan daripada gemetar macam Nagabonar habis mandi semalaman
    yang sangat mungkin berakhir dengan berhentinya nafasmu akibat hipothermia.

    Yap, sekian sedikit dari ane soal Shelter. Jika misal membutuhkan keterangan lebih lanjut, coba aja contact ane via comment atau email or telpon deh, ane pasti jawab.
    Dan iya, gambar-gambar di atas, untuk illustrasi contoh shelter, admin mengambil itu dari blog Kangsoerip dan hipwe ^_^ jadi bukan milik ane, ane cuma numpang, qqqqqq
    Oke, berarti tambah satu ilmu yang harus kau pelajari, dan bagikan itu ke yang lain ye, biar ga perlu lagi ada cerita junior yang mojok dan kaku kedinginan gara-gara nggak ngerti cara bikin shelter. Stay smart, keep hike and never stop learning

Wednesday, 3 August 2016

Alam_Gunung-hutan -- Petualang Kapiran

www.alam-gunung-hutan.blogspot.com

Salam Lestari my dear fellowship Adventurer, baik yang fresh maupun yang udah mendekati busuk di seantero Nusantara tercinta ^_^

Berjumpa lagi dengan Ane, petualang kapiran yang udah hampir gak punya waktu untuk traveling ke surga-surga tersembunyi ciptaan Tuhan yang tersebar di seluruh bumi Indonesia kita ini.
Hehehe, pada halaman yang lalu, Ane sudah ngomel-ngomel tentang fisik dan mental yang perlu disiapkan sebelum ekspedisi dimulai, dan sekarang Ane akan berkicau tentang pentingnya informasi mengenai berbagai hal terkait dengan ekspedisi tersebut

Information Gathering is a MUST!!!

Masa preparation adalah tahapan yang paling penting sebelum ekspedisi dimulai. Dalam Mountainering, masa preparation ini akan memiliki beberapa tahapan utama, yakni;
  • Lokasi keberadaan tujuan dan cara termudah dalam mencapainya
Hehehehe, bagaimana kita mau ekspedisi ke sebuah lokasi tanpa tau keberadaannya dimana? 
Jadi ini penting. Tentukan tujuan dan bagaimana cara mencapainya. Karena seringkali banyak Basecamp Gunung tidak terjangkau oleh angkutan umum, padahal jarak yang ditempuh sangatlah jauh. Tanpa informasi yang cukup, bisa saja kita harus terpaksa menunda perjalanan karena ketiadaan transportasi untuk mencapai lokasi. Padahal, jika saja informasi tersebut sudah diketahui, mungkin saja Junior bisa menumpang mobil sayur seperti di Selo, Boyolali, saat angkutan umum terakhir sudah meninggalkan terminal. Atau ikut mobil pengangkut belerang seperti di Gunung Ijen karena ketiadaan transportasi umum.
Dan ini juga berfungsi untuk membuat anggaran dasar ^_^
Kalau Junior punya Bo-Nyok yang berduit sih, yang bakal nggak masalah dengan berapapun duit yang digunakan dalam proses "hura-hura" ini, hal ini mungkin tidak akan terlalu penting. Atau untuk Junior yang nggak bermasalah dengan jangka waktu yang dibutuhkan dalam proses "Hura-hura" ini, hehehe
Jadi, kumpulkan informasi mengenai tujuan sedetail mungkin
- Di mana tepatnya lokasi
- Bagaimana mencapai lokasi tersebut
- Transportasi apa yang tersedia
- Berapa biaya yang dibutuhkan dalam ekspedisi tersebut ^_^

  • Tata cara area tujuan
Gunung, hutan, gua, sungai dan lain sebagainya, seringkali memiliki sifat-sifat khusus yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan ini amat sangat penting sekali untuk diketahui...
Sebagai contoh, Gunung Lawu di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah yang memiliki variasi suhu yang tidak terprediksi dan terkesan sesuka hati, qqqqq, pernah Ane memulai perjalanan dengan cuaca yang terang benderan penuh bintang dari Basecamp Cemoro Sewu, Jawa Timur dan dihajar hujan es di pos Sumur Jolotundo, Wakakakaka...
Banyak sekali hal-hal seperti ini yang hanya bisa didapatkan dari pengalaman-pengalaman senior di sekitar Junior semua, yang akan dengan senang hati akan mereka bagikan dengan cuma-cuma. Jadi, jangan pernah malu bertanya.

  • Map area tujuan, bisa Map RBI ataupun yang lain
 Nha, peta ini penting. Karena untuk peta tematik Gunung, yang menggambarkan bentuk permukaan tanah dalam bentuk 2 dimensi (atau akrab disebut dengan kontur), sangat berguna dalam memberikan gambaran posisi Junior semua, sehingga minimal Junior semua bisa tahu permukaan seperti apa yang akan dihadapi (meski untuk bisa begitu, kalian mesti belajar bagaimana membaca kontur tersebut, hehehe)...
Dan pastinya, ini akan meminimalisir kemungkinan Junior semua nekat berjalan ke arah jurang jika Junior punya peta dan tahu cara membacanya
Yap, Peta-protactor-Kompas ^_^

Tiga serangkai penyelamat dari tersesat dan kejadian menyedihkan semacam jatuh ke jurang ini banyak dijual di toko-toko outdoor di sekitar Junior semua. Untuk cara penggunaannya, akan Ane share pada halaman-halaman selanjutnya.
Meski sekarang juga sudah ada GPS Tracker macam Garmin dan kroni-kroninya, namun karena harga benda-benda di atas hanya sepersepuluh harga Garmin, jadi mungkin akan lebih ekonomis bila Junior memilih itu saja untuk media belajar, hehehe.
Dan jika Junior semua ingin mengetahui lebih jauh mengenai peta, silahkan saja main ke sini atau ke sini atau di sini

Jadi, Bagaimana sejauh ini?
Membosankan?
Hehehe, betul. Makanya, jangan ke gunung. Ngapain juga capek-capek ke gunung. Repot... Wakakakakakaka....

Tapi buat kalian yang masih ingin tersesat dan belajar disini, silahkan duduk dengan lebih nyaman, siapkan jajanan dan kopi biar betah, hehehe
Lain kali, kita akan lanjutkan dengan Manajemen Packing yang merupakan tahapan lanjutan dari langkah-langkah di atas, and nama pelajaran ini adalah Manajemen Perjalanan ya, hehehe,
I c u around then ^_^

Monday, 1 August 2016

Alam_Gunung-Hutan-- Adventurer atau sekedar adonis kurang lokasi?

Salam Lestari, saudaraku para pecinta gunung, hutan dan berbagai kegiatan luar ruangan di seluruh Indonesia ^_^

 

Halaman ini hadir baru hari ini, meski sebenarnya sudah sekian lama Ane ngerasa agak kurang nyaman melihat meningkatnya minat terhadap berbagai kegiatan luar ruangan semi ekstrim seperti naik gunung, namun seringkali tidak dibarengi dengan (minimal) pengetahuan dasar tentang gunung dan berbagai hal yang mengikutinya.

Berbagai alasan yang menyebabkan ini. Kelihatan keren, temen punya foto keren, dan segudang alasan lain yang mendorong para Hiker's Wannabe ini menyandang carrier dan berbondong-bondong cari tiket kereta dan membanjiri berbagai gunung di nusantara. 
Dan hasilnya seringkali kabar buruk...

Semakin sering ada temen hilang di gunung, mati di gunung, nyampah di gunung, dan banyak lagi berita buruk lainnya. Makin sering terdengar banyak keluarga kebingungan karena anak, adik, kakak, dan sebagainya belum pulang dari trip mereka ke gunung.

Hal-hal macam inilah yang mendorong ane akhirnya nekat membuat dan menerbitkan halaman ini untuk semua rekan yang ingin mengetahui tentang berbagai macam hal yang perlu diketahui para petualang-petualang karbitan macam kalian yang mungkin saat ini sedang sedikit jengkel ngebaca tulisan Ane, wakakakakaka...
Bukan berarti Ane lebih ngerti, banyak pengalaman atau apapun, cuma paling enggak sedikit bekal tambahan dalam pikiran tidaklah merugikan siapapun, hehehe, so buat kalian yang udah gaek dengan gunung dan serba-serbinya nggak perlu lagi terlalu berpusing-pusing berteriak-teriak sampai sakit leher buat ngasih tau ke orang-orang, bahwa naik gunung bukan sekedar bawa selimut, mie rebus dan jaket ^_^

gambar diambil dari www.satujam.com

Right, so, let's just start...

Adventuring to the mountain, sekilas terlihat biasa saja. Bawa peralatan yang banyak dijual di berbagai toko outdoor, bawa bekal, pake carrier, bawa tongsis, kamera dan power bank, duit, Beresssssss....

Padahal???

Hehehe, pandangan seperti ini yang seringkali membuat Junior harus kerepotan saat D Day...
Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh rekan semua sebelum akhirnya Junior semua berhak menyandang carrier itu.

Fisik adalah jelas yang paling utama

Persiapan fisik adalah krusial bagi para calon pendaki. Aklimatisasi (meski sebenarnya istilah ini digunakan utk area dengan perbedaan suhu ekstrim dengan tempat hidup junior) penting dilakukan supaya minimal otot terbiasa dengan berbagai aktivitas yang berbeda dengan keseharian Junior semua.

Caranya???

Yah, bisa dilakukan dengan berbagai cara sih. Naik turun tangga sekolah sehari 20x boleh, jogging sehari setengah jam bisa, atau berbagai jenis kegiatan yang memacu kinerja jantung (mohon dimengerti kalo nembak gebetan nggak termasuk, meski juga bikin jantung kerja ekstra). Hal ini penting, karena kalau Junior semua lupa, Gunung itu tinggi. Dan oksigen cenderung semakin tipis seiring dengan semakin tingginya area yang didaki. Jadi kalau jantung dan fisik pada umumnya terbiasa dengan kerja ekstra, atau bahkan dalam kondisi minim oksigen, kemungkinan kekurangan oksigen bisa diminimalkan.

Emang kenapa kalau kurang oksigen?

Hmmm, banyak sekali dampaknya. Mulai dari mual, pusing, susah bernafas, muntah, disorientasi, pingsan dan bahkan kematian yang sangat menyiksa.
Coba aja browsing ke Mbah Google kalau pengen tau lebih lengkap tentang efeknya ya, yang penting Junior semua ngerti bahayanya aja, hehehe...

Kan kalau capek bin tersengal-sengal bisa istirahat???

Betul banget. Cuma yang perlu diperhatikan adalah suhu dan kelembapan tubuh pada saat beristirahat. Apalagi kalau pendakian dilakukan malam hari. Mungkin Junior lupa, meskipun berada di hawa dingin, badan memiliki sistem sendiri mengenai panas yang mampu ditahannya. Dan pada saat perjalanan dilakukan, tenaga yang dikeluarkan untuk berjalan ini menghasilkan panas yang secara otomatis didinginkan oleh tubuh dengan mengeluarkan keringat. Yang tanpa disadari, membuat baju yang digunakan basah oleh keringat. 
Sementara hawa di luar tubuh semakin menurun seiring dengan naiknya posisi dan meningkatnya malam, bisa dipastikan, embun juga ikut ambil bagian dalam membuat badan semakin basah.
Padahal, panas tubuh ini satu-satunya penghalang antara foto selfie di puncak gunung dengan hypothermia ^_^
Maka, beristirahat terlalu lama juga tidak disarankan.

Oke deh, kalau begitu saya berangkat pagi aja deh

Hahahaha, ide yang bagus!
Betul, berangkat pagi juga bagus. Meski hal yang harus dihadapi kurang lebih juga tidak jauh berbeda. Karena meski siang suhu tidak terlalu dingin karena matahari, panas tersebut jadi lebih berbahaya karena otak tidak merasakan panasnya karena dinginnya suhu natural area tempat Junior berada, membuat otak tidak merasa perlu "memperingatkan" kalau tubuh kepanasan. 
Dehidrasi jadi momok utama selain Heatstroke ^_^ yang keduanya sama, punya keterkaitan khusus dengan kematian, yang tentunya Junior semua nggak mau ini terjadi, hehehe... 
Jadi, daripada repot mikir suhu, kelembapan tubuh, embun, panas tubuh dan sebagainya, mungkin akan lebih simple dan sehat kalau Junior melatih fisik, minimal seminggu sebelum keberangkatan ^_^



Aduh, oke deh, saya akan melatih fisik. Sekarang udah boleh prepare carrier?

Upps, not that fast, Tiger ^_^
Karena mental juga harus dipersiapkan dengan baik. Sikap mental adalah krusial dalam menyikapi setiap kondisi dalam perjalanan, khususnya pendakian.

Ane yakin kalau Junior semua sering dengar bagaimana sifat asli seseorang cenderung terlihat saat mendaki gunung, kan?
Sebagian besar benar... ^_^

Tanpa pembekalan dan persiapan mental, psikologis individu seringkali memunculkan sifat dasar yang cenderung mementingkan diri sendiri, asal sendirinya oke, or else, apalah istilahnya. Padahal, dalam sebuah ekspedisi pendakian, proses di mana manusia mencoba menaklukkan dirinya sendiri dengan alam sebagai rival, manusia lain adalah sekutu terbesarnya.
Sikap saling tolong menolong, perhatian terhadap (minimal) anggota team yang mendorong kerja sama team yang solid, dan sikap tidak mementingkan diri sendiri akan membuat semua "penderitaan" ekspedisi lebih bisa ditanggung.
Selain itu, jika bisa mengembangkan sikap mental yang baik, kenapa tidak, he he he...

Jika kedua hal dasar ini sudah bisa dipahami dan sejauh mungkin diamalkan, hehehe, sekarang berarti sudah tiba waktunya bagi junior semua untuk meluncur menuju berbagai toko outdoor terdekat untuk mulai memborong berbagai barang keperluan untuk mendukung kenyamanan Junior semua dalam pendakian tersebut. 
Silahkan di packing yang rapi, lalu taruh di pojok kamar... Hahahaha....

Jangan tergesa-gesa. Masih banyak yang akan Ane bagi disini. Masih banyak hal perlu disiapkan selain Fisik dan Mental-mu, Junior ^_^
Kita berjumpa lagi di halaman selanjutnya mengenai peralatan standar pendakian, jenis dan range harganya lain kali. Jadi, berhubung liburan juga udah kelar, mikir pelajaran dulu deh. Sambil terus latih fisik dan mentalnya. Jadi pas Ane bilang Junior bisa mulai jalan-jalan bawa carrier, langsung deh Cuzzz ^_^
But in the meantime, take a deep breath and just relax. I c u around, then ^_^

Salam Lestari